mungkin banyak di antara kita yang menyia nyiakan hidup ini, namun di balik sana ada seseorang yang sangat menghargai arti kehidupan. saya dan teman saya sucahyo bersama team dari jogja menyala bergegas untuk berkumpul di depan universitas negeri yogyakarta, kami berkumpul untuk memulai aktifitas pergi ke panti asuhan cacat ganda bersama rombongan dari anak anak universitas negeri yogyakarta.











Setelah kami melakukan observasi langsung kami mendapatkan jawaban dari mas Amirso selaku pengasuh anak-anak penyandang cacat di panti asuhan cacat ganda. Pak Amirso mejelaskan pada kami bahwa panti cacat ganda ini adalah milik yayasan sayap ibu yang sudah berdiri selama 25 tahun, sedangkan yayasan sayap ibu sendiri sudah ada sejak 55 tahun yang lalu. Panti cacat ganda ini adalah cabang dari yayasan sayap ibu yang mempunyai banyak cabang, salah satunya di Banten, Jakarta, dan Yogyakarta. Yayasan sayap ibu ini didirikan oleh istri bung Tomo dengan alasan, dahulu pada jaman perang banyak korban-korban sisa sisa peperangan, dan sampai saat ini sudah beralih fungsi menjadi yayasan sayap ibu. Panti cacat ganda ini merawat anak-anak cacat yang tidak memiliki orang tua, kebanyakan dari mereka banyak yang tidak memiliki orang tua, maksud kami bukan mereka tidak di lahirkan oleh orang tua mereka, tapi orang tua mereka tidak mengakui mereka sebagai anak nya, banyak dari mereka yang di temukan di tong sampah dan ditinggalkan oleh orang tuanya di rumahsakit, terang mas Amirso. Saat kami bertanya bagaimana dengan pengelolaan dana pada panti cacat ganda ini, mas Amirso menjelaskan bahwa sangat banyak sekali dana yang masuk, dana yang masuk meliputi dari masyarakat sekitar, donatur, pengunjung, donatur tetap, dan sampai ada juga donatur dari jepang dan belanda, kebanyakan dana dari donatur berbentuk fisik atau barang. Setelah kami tanya mendalam soal panti ini, kami mengetahui bahawa pimpinan yayasan sayap ibu daerah Yogyakarta adalah bapak Sunaryo. Panti cacat ganda ini ada dua tempat, selain disini yang merawat anak-anak cacat, ada juga panti 2 untuk merawat bayi-bayi yang di buang oleh orang tuanya. Mas Amirso menceritakan sedikit tentang panti 2, dahulu ada bayi yang di temukan di dalam kantong plastik hitam, tidak jauh dari panti ini dan sampai sekarang bayi itu masih ada dan dirawat di panti 2. Kami bertanya lagi, lalu apa saja yang di ajarkan pada anak-anak penyandang cacat ini ? Disini mereka di ajari cara merawat diri dahulu, lalu kemudian baru pelajaran umum. Mas Amirso menjelaskan kalau mereka tidak hanya di ajari teori-teori nama benda saja, tapi mereka langsung bersentuhan dengan benda-benda yang akan di ajarkan. Pengasuh di sini seperti orangtua mereka, dimana mereka di beri kasih sayang layaknya orangtua mereka sendiri, saat mereka sakit pun, pengasuh menemani mereka rawat inap di rumah sakit, Mas Amirso tidak sendirian, ia juga di bantu pengasuh pengasuh lain. Ada 26 anak penyandang cacat yang berada di panti cacat ganda ini, yang sebelumnya berjumlah 32 orang, mereka tidak keluar dari panti ini, tapi berkurang karena mereka meninggal dunia. Mas Amirso menjelaskan bahawa kata dokter umur mereka tidak lebih dari 30 tahun.
seekian dulu ya gan nulisnya.... kalo mau liat kampus ane, www.uii.ac.id.
atau ke fakultas ane gan... ceek it out...! 

Categories:

Leave a Reply